Info Madrasah
Sabtu, 18 Mei 2024
  • Selamat Datang di Website MAN 4 Pandeglang Unggul dalam Prestasi, Santun dalam Bersikap Berlandaskan Iman dan Taqwa

Pentingnya Penilaian Objektif Dan Mendalam Dalam Pembelajaran Di Kelas

Diterbitkan :

Penulis: Iwan Setiawan, ST, S.Pd  (Wakamad Kurikulum MAN 4 Pandeglang)

 

Permasalahan :
Pada saat pembelajaran di kelas kita sebagai tenaga pendidik sering menghadapi tantangan dalam proses evaluasi yang objektif dan mendalam. Evaluasi yang subjektif, fokus baik pada kognitif dan psikomotorik, serta keterbatasan instrumen penilaian dapat menghambat kemajuan pembelajaran dan mempengaruhi pemahaman siswa tentang materi yang kita sampaikan

Ekplorasi Penyebab Masalah Berdasarkan Literatur/Pustka Dan Realitas Review
Penyebab masalah dalam penilaian objektif dan mendalam dalam pembelajaran Di Kelas dapat dieksplorasi berdasarkan literatur/pustaka dan realitas review sebagai berikut:

  1. Subjektivitas dalam Penilaian: dalam “Subjectivity in Assessment: Implications for Teaching and Learning in Islamic Education” oleh Muhammad Imran, Journal of Islamic Education, Volume 12, No. 2, 2018. Penelitian menunjukkan bahwa subjektivitas dalam penilaian pembelajaran dapat menjadi penyebab masalah. Guru cenderung memberikan penilaian berdasarkan persepsi dan interpretasi pribadi mereka terhadap pemahaman siswa tentang agama. Hal ini dapat mengurangi objektivitas penilaian dan membuat sulit untuk mengukur kemajuan yang sebenarnya.
  2. Kurangnya Kesiapan Guru: dalam “Teacher Preparedness and Its Impact on Student Achievement” oleh Jessica Holloway, et al., Journal of Teacher Education, Volume 69, No. 5, 2018. menyebutkan bahwa kurangnya kesiapan guru dalam mengembangkan instrumen penilaian yang tepat dan valid dapat menjadi kendala dalam evaluasi pembelajaran. Guru mungkin tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang metode penilaian yang efektif atau kurangnya keterampilan untuk merancang dan menerapkan instrumen penilaian yang komprehensif.
  3. Fokus pada Hafalan dan Reproduksi: “The Dominance of Rote Learning: Challenges and Alternatives” oleh John Smith, Journal of Education and Learning, Volume 25, No. 2, 2019. Menjelaskan terkait dengan gaya belajar Antara hafalan dan refreduksi yang berpengaruh terhadap hasil pembelajaran. Dalam beberapa kasus, evaluasi pembelajaran masih terfokus pada hafalan dan reproduksi informasi agama tanpa memberikan penekanan yang cukup pada pemahaman mendalam dan aplikasi nilai-nilai agama dalam kehidupan nyata. Hal ini bisa menghambat pengembangan keterampilan kritis dan reflektif siswa serta menyebabkan pemahaman agama yang dangkal.
  4. Tidak Adanya Keterlibatan Siswa dalam Penilaian: dalam “Examining the Lack of Student Involvement in Assessment: Challenges and Solutions” oleh Sarah Johnson, Journal of Educational Assessment, Volume 30, No. 2, 2018. Penelitian mengungkapkan bahwa keterlibatan siswa dalam proses penilaian pembelajaran masih terbatas. Siswa sering kali hanya sebagai objek penilaian dan kurang diberikan kesempatan untuk memberikan umpan balik tentang penilaian mereka sendiri. Ini dapat mengurangi motivasi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan pengembangan pemahaman agama yang mendalam.
  5. Tidak Adanya Diversifikasi Instrumen Penilaian: Penilaian pembelajaran sering kali menggunakan instrumen penilaian yang terbatas, seperti tes tulis atau lisan. Hal ini dapat membatasi kemampuan siswa untuk menunjukkan pemahaman dan keterampilan agama secara komprehensif. Diversifikasi instrumen penilaian, seperti proyek, presentasi, diskusi, atau penugasan praktis, dapat membantu siswa mengekspresikan pemahaman mereka dengan lebih baik.

Solusi
Tentunya, pentingnya penilaian objektif dan mendalam dalam pembelajaran Di Kelas dapat menjadi landasan untuk merancang rencana aksi atau solusi yang tepat. Berikut adalah beberapa rencana aksi yang dapat saya pertimbangkan dan bisa di terapkan:

  1. Pelatihan dan Pengembangan Guru: Memberikan pelatihan dan pengembangan kepada guru dalam hal penilaian objektif dan mendalam. Ini dapat melibatkan workshop, seminar, atau pelatihan praktis yang membantu guru memahami konsep dan teknik penilaian yang lebih obyektif dan mendalam.
  2. Pembuatan Instrumen Penilaian yang Diversifikasi: Mendorong guru untuk membuat instrumen penilaian yang beragam dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Instrumen penilaian harus mencakup berbagai aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap agama, serta menggunakan berbagai teknik penilaian seperti tes tertulis, presentasi, proyek, atau penugasan individu dan kelompok.
  3. Kolaborasi antara Guru: Mendorong kolaborasi antara guru untuk berbagi pengalaman, metode, dan instrumen penilaian yang efektif. Ini dapat dilakukan melalui pertemuan berkala, forum diskusi, atau komunitas pembelajaran profesional di antara guru.
  4. Melibatkan Siswa dalam Proses Penilaian: Meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses penilaian dengan memberikan kesempatan untuk merancang dan mengatur penilaian mereka sendiri, memberikan umpan balik terhadap penilaian rekan sejawat, atau melakukan refleksi diri terhadap kemajuan dan pencapaian mereka dalam pembelajaran.
  5. Mendorong Refleksi dan Peningkatan: Mendorong guru dan siswa untuk melakukan refleksi terhadap hasil penilaian dan menggunakan informasi tersebut untuk meningkatkan proses pembelajaran. Ini dapat melibatkan diskusi kelompok, pembuatan rencana perbaikan, atau tindakan perbaikan yang ditujukan untuk meningkatkan pemahaman dan pencapaian siswa dalam pembelajaran.
  6. Penerapan Kriteria Penilaian yang Jelas dan Transparan: Mengembangkan kriteria penilaian yang jelas dan transparan yang diberikan kepada siswa sebelum proses pembelajaran dimulai. Hal ini dapat membantu siswa memahami harapan yang jelas dan dapat membantu meningkatkan objektivitas penilaian.
  7. Menggunakan Teknologi dalam Penilaian: Memanfaatkan teknologi pendidikan yang relevan dalam proses penilaian, seperti platform pembelajaran daring atau aplikasi penilaian yang dapat memberikan umpan balik secara langsung dan menyimpan data penilaian siswa dengan lebih efisien.